coffe love rain

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com


Coffee Love Rain

Di bawah rintikan hujan yang deras kita di pertemukan dengan di temani secangkir kopi hangat.  Pertemuan itu sangatlah singkat dan tak disengaja, pertemuan yang sangat berarti bagi gue, mungkin bagi orang lain itu hanyalah pertemuan yang melintas begitu saja tapi bagi gue itu pertemuan gue untuk memulai kisah perjalanan cinta.Awal kisah cinta gue yang tak pernah terpikirkan.
Gue di pertemukan dengan gadis cantik di bawah butiran air hujan yang sedang berteduh di cafe lotte free. Wajahnya yang begitu polos saat memandang derasnya hujan dengan menekuk wajahnya dan mengenggam tangannya seakan-akan dia memohon untuk menghentikan hujan. Tapi gue yakin yang dia rasakan sekarang hanyalah rasa dingin yang menyerang tubuh mungilnya itu. Gue ingin tertawa melihat gadis itu.
“ gak bawa payung ya? ”. awal permulaan gue untuk menyapanya, meskipun gue tahu pertanyaan itu hanyalah untaian kata yang tak bermakna.
“iya, gue gak tahu kalau hujan”. Awal responnya yang masih terpaku dengan derasnya hujan, akan tetapi gue senang karena itu berarti pintu terbuka buat gue.
“hawa dingin ini bisa di hilangkan dengan secangkir kopi hangat, nih kalau lo mau”. Tawar gue ke dia yang kebetulan gue membawa kopi hangat sebelum gue keluar dari cafe itu.
            Gue gak menyangka dia mengambil kopi itu dari genggaman tangan gue. Gue gak bisa menyembunyikan perasaan bunga ini, gue berpaling pergi begitu saja meninggalkan gadis cantik itu untuk menyembunyikan perasaan senang gue ke dia.
“terimakasih”. Teriaknya yang masih terdengar di telinga gue.
           Senyum merekah dari bibir gue, senyuman yang sangat tulus. Akan tetapi dia tak bisa melihat senyuman gue ini.  Langkah kaki gue tiba-tiba berhenti, dan satu kata yang terlintas di otak gue saat ini “bodoh”.
“aishh.....kenapa gue meninggalkannya, bukannya gue ingin kenal dengan dia? Bodoh....bodoh... bodoh...”. sesal gue dengan memukul kepala yang gak berguna ini.
---000---
“dasar cowok aneh, hujan deras gini di terobos aja, tapi dia baik juga”. Oceh gue dengan senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
            Gue mencicipi kopi yang dia berikan, gue sangat terkejut dengan rasanya. Hanya dengan satu kali serutan dari sedotan bisa membuat kita pergi melayang ke langit tujuh. Mungkin gue sedikit lebay, tapi rasa kopi ini sungguh nikmat dan lezat. White charamelnya yang terasa, aromanya begitu terasa sangat harum dan sentuhan lembut kopinya yang terasa di lidah gue, dan satu lagi hiasan creamnya yang lucu.
“pasti kopi ini sangat mahal dengan rasa kopinya yang sangat luar biasa”. Batin gue
            Tapi gue penasaran dengan cowok kopi ini, gue gak sempat berkenalan dengannya. Dan sialnya lagi gue gak tahu wajah dia. Yang aku tahu dia memakai pakaian seperti pelayan. “tunggu apa dia pelayan cafe ini ya?”. ujar gue terkejut.
            Entahlah gue harap bisa bertemu lagi dengan cowok kopi ini, gue ingin berterimakasih karena sudah memberikan secangkir kopi yang enak ini. Akan tetapi ada hal lain yang membuat gue ingin bertemu dengannya, yaitu kenal lebih dekat dengan cowok kopi itu.
---000---
“hai kristal proposal proyek lo udah selesai belum?”. Tanya joshua yang mengejutkan gue. Dia itu sahabat gue dari SMA, banyak yang mengira kalau gue sama joshua pacaran. Tapi gue mengelaknya karena gue hanyalah sebatas sahabat yang tak terpisahkan.
“lo itu ya bisa gak sih ngilangin kebiasaan buruk lo ngagetin orang, kalau gue jantungan gimana”. Ujar gue dengan memukul kepalanya.
“dan lo bisa gak tidak usah pukul kepala gue, sakit tahu”.
“yeh... salah sendiri siapa yang mulai “. Uluran lidah pun keluar dari mulut gue
“resek lo kristal”. Kalau udah begini gue harus siap-siap lari jauh, kalau gak gue bisa jadi bullyannya joshua.
“sini lo”.  Teriaknya
“tangkap gue kalau bisa tukang resek”.
            Gue berlari secepat kilat biar tuh anak gak bisa nangkep gue. Gue fokus ke joshua yang jauh di belakang mengejar gue, akan tetapi tiba-tiba benturan keras dengan orang menghantam gue.
“awww sakit”. Rintih gue
“hahaha rasain lo”. Sahut joshua. Gue curiga dengannya, dia itu sahabat gue apa bukan sih, sahabatnya jatuh malah bangga.
“eh lo itu ya, tolongin gue kenapa”. Maki gue
“yang seharusnya bantu lo bukan gue, tapi....”. Joshua menghentikan omongannya, dan seperti mencari sesuatu.
“kenapa?”. Tanya gue
“gak yang nabrak lo ilang”. Ujarnya yang masih mencari pelaku yang nabrak gue, gue pun langsung menengok ke belakang, dan hasilnya emang benar dia udah pergi, dasar pelaku gak tanggung jawab,batin gue.
“ya udah sini gue bantu”.
            Joshua mengulurkan tangannya ke gue, dan membantu gue berdiri sekaligus membantu gue berjalan sampai kelas gue. Untung saja gue dengan joshua satu kelas jadi gue gak berhutang budi dengannya atas kebaikannya ini.
---000---
“kenapa lo dav? Kayak  habis di kejar hantu aja”. Tanya riko teman sekelas gue
“gawat riko gawat....”. ujar gue khwatir. Kejadian yang barusan gue timpa teringat kembali, gue menabrak gadis hujan. Dan entah perasaan apa yang gue rasakan sekarang ini, entah perasaan senang karena gue tahu dia sekolah di kampus yang sama dengan gue atau perasaan bersalah karena telah meninggalkan dia untuk kedua kalinya.
“gawat kenapa? Gue gak bakalan mengerti kalau lo gak cerita dava”.
“gue habis menabrak cewek yang gue suka”.
“lo lagi jatuh cinta dav, lalu kenapa gawat?”.
“gawat karena gue meninggalkan dia”. Ujar gue lesu
“hahahaha”. Tawa riko yang meledak
“aishh....gue serius riko, gak bercanda gue udah ningalin dia dua kali”.
“lo ketemu dia dua kali? Dimana?”.
“di kafe kemarin”.
“hahaha salah lo sendiri ninggalin dia”.
“terus gue harus gimana rik?”.
“entah....pikir aja sendiri”. jawabnya yang enteng dan nyelonong pergi begitu saja
“woi lo gak bantu ya rik, dasar lo teman gak berguna”. Protes gue kesal
---000---
            Sepulang dari kampus gue pergi dengan joshua, karena dia udah berjanji ke gue untuk traktir sebagai tanda maaf udah buat gue jatuh terpuyung seperti di kampus. Meskipun dia gak begitu gue udah memaafkan dia, karena gue jatuh bukan salah dia, tapi salah gue sendiri, dan kalau ada yang perlu minta maaf itu si pelaku tak tanggung jawab itu.
“lo yakin kesini?”.
“iya gue yakin”.
“tapi kan kristal ini itu cafe bukan restaurant”.
“yup lo betul ini cafe, tapi disini ada kopi yang enak sekali dan gue yakin lo bakal ketagihan dengan racikan kopi disini”.
“baiklah”. Jawabnya pasrah. Setelah gue menyakinkan joshua, gue masuk ke dalam cafe lotte free. Tempat dimana gue bertemu dengan cowok si kopi. Semenjak pertemuan itu gue jadi penasaran dengannya, dan juga ingin memastikan dia apakah dia pelayan di cafe ini?.
            Seorang pelayan cowok menghampiri meja kami, dan mengasihkan buku menu ke kita. Satu per satu lembar halaman gue buka, dan gue sungguh syok dengan harga yang di tawarkan di cafe, seperti dugaan gue cafe ini memang sangat mahal.
“kita pesan dua kopi yang paling enak”. Gue gak menyangka dia pesan kopi yang paling mahal karena di sini harga kopi spesial sebesar seratus ribu, gila mahal banget kan.
“lo gila joshua pesan kopi semahal gitu”.
“lo sediri yang nyuruh gue mencoba kopi yang enak disini”.
“tapi kan gak gitu juga”.
“udah diam pokoknya gue ingin bukti omongan lo itu, kalau ternyata biasa aja lo harus ganti traktir gue kopi yang jauh lebih mahal dari ini”.
“enak aja, gue gak mau”.
“kenapa lo takut ya hahaha”.
“oke gue terima ”.
“bagus”.
            Akhirnya kopi yang bernilai seratus ribu itu datang. Dan joshua langsung mengambil dan meminumnya dengan sekali teguk. Melihatnya yang seperti itu gue yakin cowok kopi itu pelayan disini.
“hahaha lo kalah, kopinya biasa aja seperti kopi umum”. Sahut joshua setelah selesai meminum kopinya.
“mana mungkin kopinya biasa aja, tapi lo langsung habis sekali teguk”. Gue gak percaya dengannya, gue ingin mencobanya sendiri. Dan saat melihat hiasan cream kopinya, gue sangat heran. Kenapa hiasan creamnya beda? Ahh.... mungkin hiasanya aja beda tapi rasanya sama, batinku. Ketika gue mencobanya, ada kejanggalan di hati gue.
“mampus gue”. Gumamku yang masih kedengaran joshua
“kenapa biasa kan rasanya, berarti lo harus traktir gue kopi yang lebih mahal”.
            Sialllll......kenapa gue salah sih, gue kira dia pelayan sini. Kalau dia bukan pelayan cafe sini, lalu dia bekerja dimana.
“kenapa lo diam aja, lo udah setuju dengan perjanjian gue”.
“iya iya cerewet”.
“pelayan”. Panggil gue ke pelayan, gue ingin mastikan kalau menu spesial kopi yang di hidangkan ke kita gak salah. Pelayan cowok yang tadi mengantarkan pesanan kita berjalan menemui meja kita.
“apa benar ini kopi yang spesial? Dan apa hanya kalian saja yang bekerja disini? Gak ada yang lain”. tanya gue yang seperti menghakimi dia.
“iya mbak benar”. Jawabnya
“aneh”.
“hah kenapa lo?”. tanya joshua bingung
“ah gak kenapa-kenapa, udah yuk kita cabut dari sini”.
  
---000---

            Gue masih penasaran dengan si cowok kopi tempat kerjanya, padahal niat gue baik ingin terimakasih sekaligus kenalan agar lebih dekat. Tapi niat bagus gue gak di kabulkan, apa itu berarti gue gak di takdirkan untuk menemuinya lagi. Gue waktu pulang kemarin cerita ke joshua, dan responnya sangat gak mendukung dia hanya menertawai gue. Gue jadi menyesal cerita dengannya.
“kenapa lo masih mikirin cowok si kopi itu ya kristal?”. Tanya joshua yang membuyarkan lamunan gue.
“iya gue masih heran, gue kira bisa bertemu dengan dia di cafe itu”.
“lo lebih baik lupain dia deh, orang yang baru kita temui pada hari itu belum tentu kita bisa bertemu dengannya lagi, jadi itu tidak mungkin untuk lo bertemu dengan dia lagi”.
“tapi gue yakin joshua, gue bakal ketemu dia lagi insting gue gak pernah salah”.
“oke terserah lo deh, gue hanya ngasih saran aja takutnya lo nyesel nanti”.
“mbak ini dapat surat”. Sahut seorang cewek yang jelas gue gak kenal, dia mengasih gue surat tiba-tiba.
“dari siapa ya?”.
“katanya mbak baca suratnya aja, pasti tahu”.
“oh oke makasih”.
“siapa?”. Tanya joshua setelah orang yang mengasihkan surat pergi. Gue hanya menggelengkan kepala ke joshua. Karena gue memang gak tahu pengirim surat itu. Gue tidak tinggal diam, gue segera membuka suratnya dan membacanya. Ketika gue membacanya gue sungguh syok dan gak nyangka ternyata pengirim surat ini adalah si cowok kopi.
“lihat ini dia yang ngirim, dia sepertinya satu kampus dengan kita, dan itu berarti gue bisa bertemu denganya lagi”. ujarku ke joshua dengan meloncat kegirangan. Joshua langsung mengambil kertas itu dari tangan gue dan membacanya.
kalau kita awal bertemu karena secangkir kopi dengan hujan, kemungkinan kita akan di satukan kembali dengan mereka ”.
---000---
            Gue pulang sendiri tanpa joshua, katanya dia punya urusan mendadak. Gue segera menyuruh kaki gue melangkah ke arah halte bis. Saat sampai di halte masih belum terlihat ban bis yang lewat. Gue melihat cafe lotte free yang berada di seberang jalan sana. Memori awal gue bertemu dengannya berputar seperti kaset dan gue juga teringat dengan surat dari dia.
kalau kita awal bertemu karena secangkir kopi dengan hujan, kemungkinan kita akan di satukan kembali dengan mereka ”.  Apa mungkin gue bakal bertemu dengan dia di cafe itu lagi ya, batin gue.
Satu pun bis masih belum nongol-nongol, justru yang nongol tetesan air hujan yang semakin deras terjatuh dari atas kepala gue.
“ahhh......kenapa hujan selalu datang di saat gue gak bawa payung sih, di sini juga gak ada pelindungnya lagi, sebel gue”. Gerutu gue. Gue pun berlari menerobos aliran derasnya hujan ke cafe itu untuk berteduh. Pada saat sampai gue memandang hujan yang turun dengan rasa benci, karena dia gue jadi basah kuyup seperti ini.
“hawa dingin ini bisa di hilangkan dengan secangkir kopi hangat”. Sahut seseorang di belakang gue. Suara itu....suara yang sangat ingin gue temuin, gue segera membalikkan badan.
“lo?”.
“mau minum secangkir kopi, kalau lo mau ayo masuk”. Ujarnya. Gue hanya menganggukannya saja, dan akhirnya gue masuk dengannya. Gue gak menyangka ini bakal terjadi, gue harap ini bukan mimpi dan kalau pun mimpi gue gak ingin bangun dari mimpi gue. “silakan duduk dulu, gue ambilkan dulu”. Gue pun menuruti perkataannya, dan gue mengambil tempat duduk di dekat jendela. Gak berapa lama kemudian dia menyodorkan kopinya ke gue.
”nih....silakan dinikmati”. Gue melihat kopi yang dia kasih, kopinya sama waktu pertama kali, kopi yang gue cari sekaligus kopi yang bikin gue katagihan. Gue langsung meminum kopinya dan menikmati kelezatan racikan kopinya.
“gue gak nyangka kita bertemu kembali”.
“gue juga gak nyangka, omongan lo di surat bakalan jadi kenyataan”.
“jadi lo jadi pelayan disini ya?”.
“bukan gue yang punya cafe ini, dan lo tahu gue membuat racikan kopi sendiri hanya untuk gue saja, tapi ternyata lo spesial karena orang yang pertama kali mencoba racikan kopi gue itu lo”.
“wah....benarkah?? sayang sekali yang lain tidak mencicipinya padahal racikan kopi kamu enak”.puji gue tulus
“lo tahu kopi gue beda dengan kopi yang lain karena racikan kopi itu gue kasih bubuk rasa cinta yang tulus dari hati gue”.
            Gue hanya terbukam erat mendengar perkataannya barusan, dan gue gak faham apa makna dari perkataannya itu.
“dan lo tahu kenapa gue bilang seperti itu di surat?”. Gue hanya menggelengkan kepala, tanda gue menyerah. “itu karena hujan dan kopi itu adalah pasangan yang serasi tak terpisahkan oleh siapa pun, kalau pada saat hujan seseorang pasti minum kopi yang hangat karena itu momen yang sangat pas, dan persamaannya dengan kita kalau gue kopinya dan lo hujannya, karena gue yang membuat racikan kopi itu sedangkan kamu gadis yang berteduh karena hujan, oleh karena itu gue yakin kita bisa bertemu kembali dengan disatukan hujan dan kopi”. Dan sekali lagi gue hanya terdiam seribu bahasa, akan tetapi bedanya gue sekarang bisa menangkap maknanya.
“tapi kita masih baru kenal, dan kita juga belum mengenal nama masing-masing”.
“bagi gue nama itu tidaklah penting, akan tetapi cukup satu kejadian yang bikin kita berkesan untuk mengenal seseorang dan memulai awal cerita hubungan”.
“jadi maksud lo momen berkesan itu pada waktu pertama kali gue berteduh disini ya”.
“yup gadis polos yang mungil dengan tatapan memohon agar hujan berhenti”.
“hahahahaha bisa aja lo”. tawa gue
“jadi gimana lo mau memulai awal hubungan kita mulai saat ini? kalau lo gak mau menjawab sekarang gak papa gue bisa mendengarnya kapan saja”.
“tidak”.
“gue bilang gak usah di jawab sekarang”.
“iya jawabanku tidak bisa menolak lo”.
            Pelukan hangat seperti kopi langsung menghantam gue. Dia memeluk gue dengan erat dan penuh dengan kasih sayang. Gue merasa sangat nyaman dengan dia senyaman racikan kopi miliknya meskipun gue baru bertemu dengannya dan gue juga selalu tersenyum saat dia bicara seakan semua beban pikiranku hilang sama seperti racikan kopinya yang membuat gue menjadi tenang.
            Gue harap perjalanan cinta gue ini bisa seperti kopi dan hujan yang tak bisa terpisahkan walau badai menghadangnya. Dan gue harap dia akan selalu membuat gue selalu nyaman dan tenang seperti racikan kopi spesial miliknya. Karena itu coffe love rain milik kita berdua.
---The End---




Comments

Popular posts from this blog

PUISI MATA BELINTAN BY VE